Sabtu, 10 November 2012

Generasi Muda Jangan Terperangkap Dalam Penyalahgunaan Teknologi

Suara Mahasiswa
Generasi Muda Jangan Terperangkap
Dalam Penyalahgunaan Teknologi


Perubahan global yang dihadapi oleh bangsa ini jangan sampai membuat bangsa ini semakin terlena. Kemajuan akan ilmu pengetahuan dan teknologi jangan sampai membuat bangsa ini lupa akan budaya bangsa ini sendiri. Akan sangat disayangkan apabila generasi muda terlalu terlena akan kemajuan teknologi yang berkembang saat ini. Jangan sampai teknologi menguasai kita, namun bagaimana caranya agar ilmu pengetahuan yang kita miliki dapat menaklukan teknologi dan mengembangkan budaya bangsa.

Peringatan Hari Kebangkitan Nasional tahun ini patut dijadikan momentum bagi generasi muda untuk bangkit dari keterlenaan akan kemajuan teknologi yang semakin membelenggu negeri ini. Kemajuan teknologi memang sangat baik bagi setiap negara, namun jangan sampai menjadi bumerang dan mengakibatkan keterpurukan bangsa.

Penyalahgunaan teknologi yang semakin marak membuat banyak khalayak khawatir akan generasi muda saat ini. Karena pengguna teknologi saat ini adalah kebanyakan dari generasi muda. Sebagai generasi muda, sudah selayaknya kita bengkit dari keterlenaan ini dan menaklukkan teknologi. Jangan sampai kita ditaklukkan teknologi. Takluk yang dimaksudkan adalah kita sebagai generasi muda malah menjadi orang yang dekat dengan penyalahgunaan teknologi.


Ni Kadek Yuliandari
Mahasiswi Jurusan Manajemen, Fakultas Ilmu Sosial Undisha

Pemimpin Harus Memegang Amanat Rakyat

Suara Mahasiswa
Pemimpin Harus Memegang Amanat Rakyat


Menjadi pemimpin yang benar-benar memegang amanat rakyat tidaklah mudah. Karena pemimpin yang amanat mutlak dipilih oleh rakyat, bukan berdasarkan suatu rekayasa maupun kepentingan golongan semata. Merupakan kewajiban kita sebagai rakyat untuk memilih pemimpin yang baik agar benar-benar dapat memenuhi harapan kita semua di masa mendatang. Ada banyak hal yang harus dipelajari dan dipahami oleh seorang pemimpin di dalam mewujudkan kondisi rakyat yang sejahtera. Sebagai rakyat, saya sangat mendambakan pemimpin yang tidak hanya menjadi pemimpin dalam sebuah negara tetapi bagaimana pemimpin tersebut mampu memberikan perubahan positif terhadap rakyat dan bertindak adil dan tepat sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan.

Kita sebagai masyarakat harus mampu memilih secara tepat memilih pemimpin yang pantas untuk memimpin. Kita berharap pemimpin yang terpilih nantinya akan mampu menjaga kepercayaan yang diberikan oleh masyarakat, melaksanakan tugas secara benar dan bertanggung jawab, serta mampu melihat apa sebenarnya yang menjadi kebutuhan dari masyarakat. Tentunya, agar kepemimpinan yang dijalankan dapat berjalan sesuai dengan harapan, maka perlu diadakan perbaikan kualitas secara berkesinambungan atas output yang dihasilkan oleh Pemerintah, sumber daya manusia (SDM), proses serta lingkungannya. Kemudian perlu didukung juga dengan tingkat konsistensi yang baik atas apa yang diucapkan (dijanjikan) dengan apa yang diperbuat untuk masyarakat serta mampu mengaplikasikan visi dan misi yang telah ditetapkan sebelumnya dengan baik dan benar.


Nurul Inayah
Mahasiswa Manajemen 


Fakultas Ilmu Sosial Undiksha Singaraja

Bangkitkan Rasa ’’Jengah’’ Melestarikan Budaya Bali

Suara Mahasiswa
Bangkitkan Rasa ’’Jengah’’ Melestarikan Budaya Bali


BELAKANGAN ini kita sebagai orang Bali cenderung tidak bangga dengan seni dan budaya yang kita miliki. Malahan kita lebih condong fokus untuk meniru budaya Barat yang sangat tidak cocok diterapkan di sini. Itu hanya akan membuat budaya kita melemah dan sedikit demi sedikit akan menghilang. Kalau sudah hilang maka
akan sangat disayangkan, seni dan budaya yang sudah dari zaman dulu yang diciptakan oleh nenek moyang kita. Kini seakan tidak ada rasa memiliki budaya Bali atau merasa jadi bagian darinya.

Hal ini akan bisa menghancurkan Bali secara perlahan. Bali akan tenggelam seni dan budayanya. Untuk itu mari kita benahi
keterpurukan ini, mari kita bangkitkan seniman-seniman Bali, berikan dukungan kepada mereka. Tetapi tidak hanya pada mereka
saja, semua masyarakat Bali harus ikut jengah dalam melestarikan seni dan budaya ini. Bukan juga sekadar milu-milu (ikut-ikutan). Dengan diadakannya Pesta Kesenian Bali sekarang ini mari kita bangun kembali rasa memiliki, memelihara serta mengajegkan seni dan budaya Bali. Ini merupakan kesempatan
yang sangat bagus saat ini. Dengan adanya PKB ini kita mesti semangat untuk berlomba-lomba memamerkan seni dan budaya masing-masing kabupaten kita ini. Kalau bukan kita siapa lagi yang mesti melestarikan seni dan budaya Bali?


I Made Kristiadi Martha
Mahasiswa Jurusan Manajemen
Fakultas Ilmu Sosial Undiksha Singaraja

Pengenalan Budaya Bali kepada Generasi Muda

Suara Mahasiswa
Pengenalan Budaya Bali kepada Generasi Muda


DI ZAMAN globalisasi ini, banyak terjadi akulturasi budaya yang menyebabkan pembaruan terhadap budaya-budaya asli Bali oleh budaya asing, sehingga keaslian budaya dan kesenian Bali sudah hampir menghilang. Banyak tarian dan kesenian Bali kini mulai menyusut seperti halnya seni tari, karawitan, dan lainnya yang
merupakan asli daerah Bali yang diwariskan oleh para leluhur
kita. Dengan keadaan seperti itu, PKB XXXIV ini sangat perlu diadakan untuk mengenalkan kesenian dan kebudayaan asli daerah
Bali yang banyak tidak diketahui oleh masyarakat. Banyak
aset budaya terpendam yang tidak diketahui oleh masyarakat
seperti, seni Gambuh, seni karawitan, serta yang lainnya. Generasi muda diajak untuk mengenal dan mencintai budaya serta kesenian Bali untuk dapat dijaga dan dilestarikan.


I Made Cahya Buana
Mahasiswa Jurusan
Manajemen Fakultas Ilmu Sosial Undiksha

Bebaskan Bali dari Sampah

Suara Mahasiswa
Bebaskan Bali dari Sampah


Di balik keindahan dan kesemarakan pariwisata Pulau Dewata tersembunyi masalah sampah yang seakan diremehkan. Sampah masalah yang paling sering dibicarakan oleh pemerintah.

Kota yang bersih adalah kota yang bebas dari sampah. Namun di sepanjang garis pantai Bali hampir sebagian besar berpotensi memproduksi sampah. Selain itu di sudut-sudut kota besar seperti Denpasar, Badung, dan Singaraja sudah sangat mudah menemukan tumpukan-tumpukan sampah yang terpajang dan bertumpuk di tepian jalan. Sehingga menyebabkan buruknya pemandangan serta timbulnya bau dan ketidaknyamanan. Sampah dapat menimbulkan efek jangka panjang dan jangka pendek jika didiamkan begitu saja. Jangka pendek dapat mengakibatkan bau yang tidak sedap dan merusak pemandangan yang bersih, untuk jangka panjang dapat mengakibatkan kebanjiran dan kekumuhan kota.

Maka dari itu, marilah sejak dini kita mulai sadar akan kebersihan dan keindahan pulau yang indah serta asri ini. Marilah kita jaga dan buat Bali bebas dari sampah agar selalu ada di hati wisatawan dan masyarakat Bali. Masalah sampah ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, namun 80% adalah tanggung jawab masyarakat sendiri dan 20% pemerintah yang hanya sebagai sarana dalam pelaksanaan program tahunan. Maka dari itulah, mari kita jaga Bali untuk kita dan generasi penerus kita. Bali yang bersih adalah jiwa yang suci.


Made Cahya Buana
Mahasiswa Jurusan Manajemen, 


Fakultas Ilmu Sosial, 
Undiksha Singaraja

’’Say No To Coruption’’ Jangan Dijadikan Budaya dan Kebiasaan

Suara Mahasiswa
’’Say No To Coruption’’
Jangan Dijadikan Budaya dan Kebiasaan



KORUPSI sudah jamak dan tidak asing lagi bagi warga negara Indonesia. Kenapa demikian? Jawabnya, manusia yang melakukan tindakan itu sudah tidak bermoral dan memiliki hati nurani lagi. Akibatnya negara ini mengalami krisis multidimensional, ya hukum,
moral dll, di semua lapisan baik institusi formal dan tidak formal. Banyak kasus korupsi yang terus bermunculan seperti dilansir media cetak dan elektronik, mulai kasus Bank Century, Angelina Sondakh, Nazarudin dan kini kembali muncul kasus Hambalang. Sepertinya korupsi di negeri ini tidak pernah kunjung usai. Kasus-kasus itu merebak dan terus gencar diselesaikan KPK. Anehnya, timbul dan muncul lagi kasus yang baru. Kasus-kasus itu bagaikan jamur yang tumbuh di musim hujan saja. Kasus itu terus tumbuh tanpa ada ujung dan usainya. Bahkan saking tenarnya kasus korupsi di Indonesia ini, negara tercinta ini masuk kategori negara terkorup di Asia. Apakah ini suatu kebanggaan bagi kita sebagai warga negara? Tentu saja tidak bukan? Bisa dibayangkan apa yang terjadi jika korupsi ini terus terjadi di Indonesia. Dampaknya sudah pasti angka kemiskinan tidak akan menunjukkan arah menurun dari grafik ekonomi negara. Banyak sekali multiflier effect negatif yang ditimbulkan oleh korupsi ini. Disamping nyata secara ekonomi, juga berimbas dan merusak moral bangsa kita. Coba bayangkan jika anak kecil mengerti akan korupsi, tentu uang yang dikasi orangtuanya akan dikorupsikan secara terus-menerus. Jika tradisi ini terus berkembang, maka orangtua, sekolah, kantor hingga uang negara terus tanpa henti
dikorupsi. Kita sebagai warga negara Indonesia harus berani mengatakan ‘’Tidak’’ pada korupsi. Korupsi jangan dijadikan budaya dan kebiasaan. Jika itu terjadi, hal ini akan terus diwariskan kepada keturunan kita kelak. Bisa dibayangkan, betapa mirisnya kita mendapat predikat negara terkorup di Asia, jika tidak ada upaya mencegah, akan terus meluas menjadi se-dunia. Maka dari itu, marilah kita sebagai generasi muda harus berani Say No To Coruption. Pasalnya, korupsi benar-benar sangat merugikan pribadi dan orang lain.


I Made Cahya Buana
Jurusan Manajemen,
Fakultas Ilmu Sosial
Universitas Pendidikan
Ganesha

Hilangkan Budaya ’’Ngaret’’ untuk Raih Kemajuan

Suara Mahasiswa
Hilangkan Budaya ’’Ngaret’’ untuk Raih Kemajuan



NGARET atau tidak on time sudah menjadi budaya di Indonesia. Itu terjadi pada kebanyakan perkantoran 
dan perusahaan di Indonesia. Budaya tidak on time ini sering meresahkan masyarakat banyak, termasuk kalangan pegawai dan mahasiswa. Jadwal yang sudah tertulis tidak jarang hanya menjadi pajangan belaka. Kenyataannya tidak sesuai jadwal dan harapan, sehingga banyak mengecewakan. Selain di kampus, budaya ngaret banyak juga dijumpai di berbagai acara dan perkantoran. Budaya ngaret seakan sudah mendarah daging. Jarang sekali ditemui acara yang dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang disusun sebelumnya Sangat berbeda dengan di
Barat (Eropa). Masyarakat sangat menghargai ketepatan waktu. Mereka menganggap waktu adalah uang yang sangat berharga. Dari sana mereka bercermin bahwa tidak baik membuang-buang waktu, karena waktu sangat berharga dan harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Itulah salah satunya yang membuat masyarakat Barat makin maju dan disiplin. Salah satu penyebab dari budaya tidak on time ini adalah rasa bosan, malas, dan suka menunda-nunda. Makadari itu, mari kita benahi diri. Berawal dari diri kita, kita hilangkan budaya ngaret atau kebiasaan tidak on time. Kita sebagai tunas bangsa dan generasi muda harus berjiwa optimis, disiplin, dan berpikiran maju
sehingga apa yang menjadi harapan akan selalu terlaksana.


I Made Cahya Buana
Mahasiswa Jurusan Manajemen Fakultas Ilmu
Sosial Universitas Pendidikan Ganesha

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost Coupons