This is featured post 1 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.
This is featured post 2 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.
This is featured post 3 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.
Kamis, 15 November 2012
PROGRAM KERJA BIDANG I
UNIVERSITAS
PENDIDIKAN GANESHA
FAKULTAS EKONOMI
DAN BISNIS
HIMPUNAN MAHASISWA
JURUSAN MANAJEMEN
KOORDINATOR BIDANG PENDIDIKAN
DAN PENALARAN (I)
NO
|
NAMA KEGIATAN
|
PESERTA
|
WAKTU &
TEMPAT
|
PELAKSANA
|
1
|
PELATIHAN DASAR
KEPEMIMPINAN (PDK)
|
Mahasiswa
manajemen
|
25 Februari 2012
|
Panitia PDK Manajemen
tahun 2012
|
2
|
Mahasiswa Manajemen
|
17
November 2012
|
Dosen
manajemen dan
Panitia
HUT Jurusan Manajemen tahun 2012
|
|
3
|
MENJALANKAN BLOG HIMPUNAN MAHASISWA JURUSAN MANAJEMEN
|
Untuk
seluruh Mahasiswa Manajemen dan umum
|
isidential
|
Anggota Bidang I
|
4
|
MEMBUAT MANAJEMEN CORNER
|
Mahasiswa Manajemen
Asesor
Akreditasi Jurusan Manajemen
|
6 Juni 2012
21
November 2012
|
Anggota Bidang I
Anggota Bidang I
|
Minggu, 11 November 2012
'Go Entrepreneur' (special Suara Dosen)
Suara Hati
'Go Entrepreneur'
BEBERAPA program pemerintah sudah dijalankan dan dimaksudkan sebagai solusi untuk mengatasi masalah kemiskinan. Di antaranya program bedah rumah, di bidang kesehatan ada jaminan kesehatan Bali Mandara, bantuan langsung tunai (BLT) dan bantuan-bantuan lainnya. Namun dalam kenyataannya, program yang dijalankan oleh pemerintah belum mampu menyentuh pokok yang menimbulka
'Go Entrepreneur'
BEBERAPA program pemerintah sudah dijalankan dan dimaksudkan sebagai solusi untuk mengatasi masalah kemiskinan. Di antaranya program bedah rumah, di bidang kesehatan ada jaminan kesehatan Bali Mandara, bantuan langsung tunai (BLT) dan bantuan-bantuan lainnya. Namun dalam kenyataannya, program yang dijalankan oleh pemerintah belum mampu menyentuh pokok yang menimbulka
n masalah kemiskinan.
Seorang penulis buku tentang motivasi, Max Gunther mengatakan bahwa sistem pendidikan hanya akan melahirkan lulusan 'Sanglaritis' yang artinya mereka mempunyai mental buruh, yaitu ingin menjadi pegawai negeri atau pegawai swasta. Mereka kurang mampu dan mau menciptakan lapangan kerja sendiri. Sementara itu, pertumbuhan lapangan kerja semakin sempit. Jadi, tidak mengherankan jika setiap tahun jumlah pengangguran dari kaum intelek yang menyandang gelar pendidikan perguruan tinggi terus bertambah. Lalu pertanyaannya, siapa yang salah, mahasiswa, para orang tua, atau pemerintah? Jawabannya tentu tergantung dari sudut mana kita memandang. Kita tidak bisa mengambinghitamkan salah satu pihak.
Mengingat semakin meningkatnya jumlah pengangguran, maka sangat dibutuhkan solusi tepat untuk mengatasinya. Salah satunya adalah dengan memulai dari diri sendiri mengubah paradigma berfikir, yang awalnya pencari kerja menjadi pencipta lapangan kerja (menjadi seorang entrepreneur). Untuk itu perlu diciptakan iklim yang dapat mengubah pola fikir, baik mental maupun motivasi orang tua, dosen dan mahasiswa. Virus yang menularkan anak bangsa untuk mengubah cita-cita dari pegawai atau karyawan menjadi mau dan mampu menciptakan lapangan kerja harus segera direalisasikan. Cita-cita yang ditanamkan orang tua kepada anak-anak sejak kecil untuk menjadi pegawai sebaiknya dinomorduakan. Bukan berarti menjadi pegawai tidak baik, tetapi akan lebih baik jika menjadi pengusaha yang mampu memberikan peluang pekerjaan kepada masyarakat yang membutuhkan. Paling tidak, dengan menjadi entrepreneur diharapkan seseorang bisa mandiri dan tidak hanya tergantung pada rekrutmen CPNS.
I Nengah Suarmanayasa, SE.,M.Si
Dosen S1 Manajemen Undiksha Singaraja
Br. Selatnyuhan, Pengiangan, Susut, Bangli
Seorang penulis buku tentang motivasi, Max Gunther mengatakan bahwa sistem pendidikan hanya akan melahirkan lulusan 'Sanglaritis' yang artinya mereka mempunyai mental buruh, yaitu ingin menjadi pegawai negeri atau pegawai swasta. Mereka kurang mampu dan mau menciptakan lapangan kerja sendiri. Sementara itu, pertumbuhan lapangan kerja semakin sempit. Jadi, tidak mengherankan jika setiap tahun jumlah pengangguran dari kaum intelek yang menyandang gelar pendidikan perguruan tinggi terus bertambah. Lalu pertanyaannya, siapa yang salah, mahasiswa, para orang tua, atau pemerintah? Jawabannya tentu tergantung dari sudut mana kita memandang. Kita tidak bisa mengambinghitamkan salah satu pihak.
Mengingat semakin meningkatnya jumlah pengangguran, maka sangat dibutuhkan solusi tepat untuk mengatasinya. Salah satunya adalah dengan memulai dari diri sendiri mengubah paradigma berfikir, yang awalnya pencari kerja menjadi pencipta lapangan kerja (menjadi seorang entrepreneur). Untuk itu perlu diciptakan iklim yang dapat mengubah pola fikir, baik mental maupun motivasi orang tua, dosen dan mahasiswa. Virus yang menularkan anak bangsa untuk mengubah cita-cita dari pegawai atau karyawan menjadi mau dan mampu menciptakan lapangan kerja harus segera direalisasikan. Cita-cita yang ditanamkan orang tua kepada anak-anak sejak kecil untuk menjadi pegawai sebaiknya dinomorduakan. Bukan berarti menjadi pegawai tidak baik, tetapi akan lebih baik jika menjadi pengusaha yang mampu memberikan peluang pekerjaan kepada masyarakat yang membutuhkan. Paling tidak, dengan menjadi entrepreneur diharapkan seseorang bisa mandiri dan tidak hanya tergantung pada rekrutmen CPNS.
I Nengah Suarmanayasa, SE.,M.Si
Dosen S1 Manajemen Undiksha Singaraja
Br. Selatnyuhan, Pengiangan, Susut, Bangli
Memutus Rantai Kemiskinan Melalui Pendidikan (special Suara Dosen)
Suara Hati
Memutus Rantai Kemiskinan Melalui Pendidikan
DIPANDANG dari sisi ekonomi, ada tiga penyebab kemiskinan. Pertama, secara mikro, kemiskinan muncul karena adanya ketidaksamaan pola kepemilikan sumber daya yang menimbulkan distribusi pendapatan yang timpang. Penduduk miskin hanya memiliki sumber daya dalam jumlah terbatas dan kualitasnya rendah. Kedua, kemiskinan muncul akibat perbedaan
Memutus Rantai Kemiskinan Melalui Pendidikan
DIPANDANG dari sisi ekonomi, ada tiga penyebab kemiskinan. Pertama, secara mikro, kemiskinan muncul karena adanya ketidaksamaan pola kepemilikan sumber daya yang menimbulkan distribusi pendapatan yang timpang. Penduduk miskin hanya memiliki sumber daya dalam jumlah terbatas dan kualitasnya rendah. Kedua, kemiskinan muncul akibat perbedaan
akses dalam modal. Ketiga, kemiskinan muncul akibat perbedaan dalam kualitas sumber daya manusia. Kualitas sumber daya manusia yang rendah berarti produktivitasnya rendah, yang pada gilirannya menjadi penyebab rendahnya tingkat upah yang diterima. Rendahnya kualitas sumber daya manusia ini karena rendahnya pendidikan.
Pendidikan dan kemiskinan itu ibarat dua kutub yang saling berhubungan. Seringkali kemiskinan menjadi penyebab anak didik kehilangan kesempatan atau haknya untuk mengenyam pendidikan. Di sisi lain, pendidikan adalah tol untuk mencerdaskan bangsa yang mampu memutus mata rantai kemiskinan itu sendiri. Fakta di lapangan menyebutkan banyak anak-anak dari keluarga miskin yang kehilangan hak pendidikannya. Selama ini rakyat miskin telah terpasung oleh kemiskinannya untuk memperoleh pendidikan yang baik, termasuk mencari ilmu di perguruan tinggi. Akibat keterpasungan itulah realita yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin masih kerap terjadi. Rakyat miskin tidak bisa memperoleh pekerjaan yang baik di pasaran kerja karena kalah bersaing dengan rakyat yang memperoleh pendidikan yang lebih baik.
Cara bijak yang harus dilakukan pemerintah dalam konteks memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan adalah dengan memberikan beasiswa untuk rakyat miskin. Tetapi hal itu tidak cukup, secara bersamaan pemerintah harus memperluas lapangan pekerjaan dari perspektif kuantitas dan variasi keterampilan yang dibutuhkan. Investasi hendaknya diperluas jenisnya ke usaha-usaha yang bersifat padat karya bukan padat modal. Masyarakat Bali juga harus meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya untuk keluar dari keterbelakangan dan ketertinggalan sehingga mampu memasuki berbagai variasi segmentasi jenis pekerjaan yang tersedia.
I Nengah Suarmanayasa, S.E.,M.Si.
Dosen S-1 Manajemen Undiksha Singaraja
Br. Selatnyuhan, Pengiangan, Susut, Bangli
Pendidikan dan kemiskinan itu ibarat dua kutub yang saling berhubungan. Seringkali kemiskinan menjadi penyebab anak didik kehilangan kesempatan atau haknya untuk mengenyam pendidikan. Di sisi lain, pendidikan adalah tol untuk mencerdaskan bangsa yang mampu memutus mata rantai kemiskinan itu sendiri. Fakta di lapangan menyebutkan banyak anak-anak dari keluarga miskin yang kehilangan hak pendidikannya. Selama ini rakyat miskin telah terpasung oleh kemiskinannya untuk memperoleh pendidikan yang baik, termasuk mencari ilmu di perguruan tinggi. Akibat keterpasungan itulah realita yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin masih kerap terjadi. Rakyat miskin tidak bisa memperoleh pekerjaan yang baik di pasaran kerja karena kalah bersaing dengan rakyat yang memperoleh pendidikan yang lebih baik.
Cara bijak yang harus dilakukan pemerintah dalam konteks memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan adalah dengan memberikan beasiswa untuk rakyat miskin. Tetapi hal itu tidak cukup, secara bersamaan pemerintah harus memperluas lapangan pekerjaan dari perspektif kuantitas dan variasi keterampilan yang dibutuhkan. Investasi hendaknya diperluas jenisnya ke usaha-usaha yang bersifat padat karya bukan padat modal. Masyarakat Bali juga harus meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya untuk keluar dari keterbelakangan dan ketertinggalan sehingga mampu memasuki berbagai variasi segmentasi jenis pekerjaan yang tersedia.
I Nengah Suarmanayasa, S.E.,M.Si.
Dosen S-1 Manajemen Undiksha Singaraja
Br. Selatnyuhan, Pengiangan, Susut, Bangli
Generasi Muda dan Pendahulu Harus Duduk Bersama Mendiskusikan Solusi Terbaik Permasalahan Negara
Suara Mahasiswa
Generasi Muda dan Pendahulu Harus Duduk Bersama
Mendiskusikan Solusi Terbaik Permasalahan Negara
Generasi Muda dan Pendahulu Harus Duduk Bersama
Mendiskusikan Solusi Terbaik Permasalahan Negara
SETIAP manusia memiliki cara yang berbeda-beda untuk menyuarakan isi pikirannya. Namun apabila ada provokasi untuk melakukan tindakan yang merugikan masyarakat luas, sungguh disayangkan apabila mahasiswa sebagai kaum intelektual terprovokasi oleh hal seperti itu.
Malu melihat tayangan demo anarkis yang dilakukan oleh mahasiswa di beberapa universitas negeri dan swasta yang ada di Indonesia. Melihat saudara kita melakukan hal yang seharusnya sebagai kaum intelektual tidak dilakukan malah dilakukan, sungguh miris. Sah-sah saja apabila kita ingin melakukan demo, karena negara ini adalah negara demokrasi. Namun, apakah harus dengan cara seperti itu meluapkan isi pikiran kita?
Sebagai generasi penerus bangsa, hendaknya antara generasi penerus dengan generasi terdahulu duduk berhadapan dan mendiskusikan apa solusi yang terbaik untuk setiap permasalahan pelik di negara ini.
Hal ini memang sulit dilakukan dalam situasi politik yang seperti ini, semua golongan ingin didengarkan apa isi pikirannya. Lalu, apabila semua golongan ingin isi pikirannya didengarkan, siapakah yang bersedia menjadi pendengar yang baik sekaligus menjadi penasihat yang baik?
Tentunya hal ini akan menjadi pekerjaan rumah bagi kita sebagai kaum intelektual dan bagi mereka yang sedang menjadi pejabat teras negeri ini.
Ni Kadek Yuliandari
Mahasiswa Jurusan Manajemen, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Pendidikan Ganesha
Malu melihat tayangan demo anarkis yang dilakukan oleh mahasiswa di beberapa universitas negeri dan swasta yang ada di Indonesia. Melihat saudara kita melakukan hal yang seharusnya sebagai kaum intelektual tidak dilakukan malah dilakukan, sungguh miris. Sah-sah saja apabila kita ingin melakukan demo, karena negara ini adalah negara demokrasi. Namun, apakah harus dengan cara seperti itu meluapkan isi pikiran kita?
Sebagai generasi penerus bangsa, hendaknya antara generasi penerus dengan generasi terdahulu duduk berhadapan dan mendiskusikan apa solusi yang terbaik untuk setiap permasalahan pelik di negara ini.
Hal ini memang sulit dilakukan dalam situasi politik yang seperti ini, semua golongan ingin didengarkan apa isi pikirannya. Lalu, apabila semua golongan ingin isi pikirannya didengarkan, siapakah yang bersedia menjadi pendengar yang baik sekaligus menjadi penasihat yang baik?
Tentunya hal ini akan menjadi pekerjaan rumah bagi kita sebagai kaum intelektual dan bagi mereka yang sedang menjadi pejabat teras negeri ini.
Ni Kadek Yuliandari
Mahasiswa Jurusan Manajemen, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Pendidikan Ganesha


18.00
MANAJEMEN






















