Minggu, 11 November 2012

Membangun Persepsi Intelektual Lewat Prilaku Rasional

Suara Mahasiswa
Membangun Persepsi Intelektual Lewat Prilaku Rasional



Menyampaikan aspirasi tak semudah yang kita bayangkan. Konsekuensi untuk tidak diterimanya kritik dan saran yang akan kita sampaikan harus bisa diterima dengan hati lapang. Saling toleransi dan menghargai harus ditanamkan sejak dini kepada generasi penerus agar nantinya dalam menyikapi masalah dapat ditempuh dengan jalur yang aman dan damai. Tentunya ini yang menjadi harapan dari masyarakat kepada kita sebagai kaum intelektual yang notabene dicap sebagai orang yang lebih pintar daripada mereka yang tidak mengecap ilmu pendidikan. Masyarakat luas pun akan mendukung tindakan kita apabila kita sudah mampu berperilaku tertib.

Perlu membenahi cara menyampaikan aspirasi dan menyelipkan tentang tata cara berdemo yang baik dalam kegiatan orientasi kehidupan kampus atau Ospek. Ini adalah cara yang paling tepat untuk mengantisipasi terjadinya demo anarkis dari mahasiswa yang merupakan calon-calon intelektual. Marilah kita bersama-sama membangun citra positif di masyarakat tentang kedudukan diri kita sebagai mahasiswa. Berfikir dan bertingkah laku sesuai rasional yang baik akan membuat segala tindakan kita lebih terorganisir.

Aksi-aksi demo anarkis yang dilakukan oleh mahasiswa beberapa waktu lalu, banyak disayangkan berbagai pihak. Karena mereka merusak fasilitas umum yang merupakan milik bersama bukanlah solusi yang tepat untuk dapat memecahkan masalah yang sedang dihadapi oleh negara ini. Malahan itu akan membuat masalah semakin melebar, beban pemerintah menjadi lebih berat dan tentunya merugikan banyak pihak. Namun, kenapa mahasiswa lebih memilih merusak fasilitas umum, itu karena mereka sudah tidak melihat jalan lain lagi guna mendesak pemerintah agar mendengarkan isi hati mereka sebagai warga negara. Akal sehat pun sirna ketika apa yang ingin disampaikan gagal tersampaikan, sehingga cara paling kasar dan bukan mencirikan kaum intelektual harus dilakukan. Kegagalan dalam penyampaian aspirasi telah membutakan tindakan yang salah menjadi benar.


Ni Kadek Yuliandari
Mahasiswi Jurusan Manajemen, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Pendidikan Ganesha

Ubah Pola Pikir untuk Turunkan Angka Kemiskinan

Suara Mahasiswa
Ubah Pola Pikir untuk Turunkan Angka Kemiskinan


TINGGINYA angka kemiskinan di negara Indonesia merupakan persoalan sosial yang sampai saat ini belum dapat diatasi dengan baik oleh pemerintah. Kemiskinan di negeri ini tidak hanya menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah, namun ini akan menjadi persoalan yang harus dipecahkan bersama antara pemerintah dan masyarakat. Apabila hanya 
dari pemerintah yang berinisiatif untuk menurunkan angka kemiskinan, namun dari masyarakat itu sendiri tidak mau mendukung, maka akan sia-sia saja program yang telah direncanakan untuk kemajuan masyarakatnya.

Kemiskinan di negari ini sejak dulu belum juga bisa teratasi. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk memberantas kemiskinan negeri ini, namun hasilnya masih sangat jauh dari harapan. Masih sangat banyak masyarakat Indonesia yang berada di bawah garis kemiskinan.

Inilah fenomena sosial yang sedang dihadapi oleh bangsa kita. Upaya untuk memberantas kemiskinan yang dimulai dengan cara menurunkan angka pengangguran merupakan cara paling efektif untuk menurunkan angka kemiskinan. Pemerintah harus berupaya untuk mencari lapangan usaha bagi mereka yang saat ini sedang menganggur. Namun, kembali lagi, jangan hanya pemerintah saja yang bergerak, masyarakat pun harus lebih kreatif dalam pengembangkan pola pikirnya. Jangan hanya menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang kita ketahui dan sudah menjadi rahasia umum bahwa ada pungutan-pungutan yang tidak masuk akal dan entah ke mana larinya pungutan tersebut.

Sebagai masyarakat yang cerdas dengan adanya kemajuan teknologi, marilah kita bersama-sama membantu pemerintah memecahkan masalah kemiskinan yang sudah menjadi penyakit akut negeri ini. Kalau bukan kita, siapa lagi?

Generasi muda pun harus memiliki pemikiran yang luas dan berorientasi ke depan, sekolah jangan sekadar sekolah saja, namun sekolahlah untuk mendapatkan ilmu. Mari bersama-sama membangun negara ini untuk menjadi negara yang lebih baik dari saat ini agar kita sebagai generasi muda tidak hanya membebani pemerintah, namun buktikan kita mampu memberikan sesuatu kepada negara ini.


Ni Kadek Yuliandari
Mahasiswi Semester IV Jurusan Manajemen Fakultas Ilmu Sosial Universitas Pendidikan Ganesha

Jangan Sekadar Kejar ''Rating'' Cerita dan Hiburan di TV Harus Mencerdaskan

Suara Mahasiswa
Jangan Sekadar Kejar ''Rating''
Cerita dan Hiburan di TV Harus Mencerdaskan


TELEVISI saat ini adalah media massa yang paling banyak memengaruhi masyarakat untuk mendapatkan informasi. Menurut Survei International Foundation for Election System (IFES), 85% masyarakat Indonesia memperoleh informasi dari televisi. Acara televisi yang mendominasi adalah sinetron. Kecuali yang ada genre khususnya. Acara sinetron yang sekarang sedang tayang inilah yang perlu diperhatikan oleh pemerintah, dalam hal ini lembaga penyiaran pengontrol tayangan televisi. Karena sinetron yang tayang sekarang cenderung memiliki cerita yang hampir sama.

Sinetron yang tayang sekarang ini cenderung hanya mengejar rating. Walaupun mungkin memang banyak peminatnya (rating-nya tinggi) sehingga sinetron ini ceritanya hingga ratusan episode, tetapi tidak semestinya sinetron tersebut diperpanjang dengan cerita yang mustahil dan berlebihan. Pemerintah semestinya memantau dan memberikan peringatan kepada yang memproduksi sinetron tersebut agar membuat cerita yang lebih logis, menghibur dan tentunya yang mendidik. Karena selama ini masyarakat telah terbiasa menonton sinetron yang pemainnya cantik, tampan dan cerita yang dramatis. Mereka tidak sadar akan dampak dari sinetron tersebut.

Ada sinetron yang diambil dari latar belakang sejarah, namun ceritanya sangat berbeda dan tidak masuk akal. Ini akan berdampak negatif kepada generasi muda yang menontonnya. Banyak generasi muda bahkan kaum ibu yang bisa terpengaruh oleh cerita tersebut. Karena menurut mereka, mereka menonton dari televisi, sedangkan televisi adalah sumber informasi. Mereka bisa bercerita kepada generasi muda yang berikutnya, bahwa ada cerita sejarah yang memiliki versi tahun sekian seperti ini. Ini namanya pembodohan dengan menayangkan sinetron-sinetron yang hanya memikirkan rating saja.

Masyarakat kita jangan dimanjakan untuk menikmati acara hiburan seperti itu. Walaupun memang untuk membuat acara yang bagus dan mendidik sangat susah, namun di sinilah tugas pemerintah untuk memantau dan bekerja sama dengan pihak-pihak televisi untuk membuat acara yang berkualitas dan mampu mencerdaskan anak bangsa.


Ni Luh Sophia Pandan Sari D
Mahasiswi Jurusan Manajemen Fakultas Ilmu Sosial Universitas Pendidikan Ganesha

Mewarisi Semangat Kartini dengan Baik

Suara Mahasiswa
Mewarisi Semangat Kartini dengan Baik


TANGGAL 21 April ini, bangsa ini memperingati Hari Kartini. Hari yang dikenal sebagai hari kebangkitan para perempuan di Indonesia. Hari yang dianggap sebagai hari penyetaraan hak antara perempuan dan lakilaki. Hari di mana seorang
perempuan bernama Kartini lahir, seorang perempuan yang mengentas kaumnya dari kebodohan. Sudah sepantasnya
perempuan Indonesia masa kini mencontoh perjuangan RA Kartini. Sehingga kita mampu menemukan sosok Kartini-kartini masa kini.
Pemikiran Kartini akan pentingnya pendidikan untuk kaum perempuan sudah selayaknya kita jadikan referensi untuk pengembangan dunia pendidikan saat ini. Sehingga tokoh pendidikan saat ini tidak hanya dihiasi oleh kaum adam saja. Sudah
selayaknya kaum hawa menunjukkan dirinya sebagai bukti semangat Kartini yang melekat pada perempuan-perempuan Indonesia terwariskan dengan baik. Marilah kita semua mengajak
perempuan-perempuan Indonesia untuk mampu mewarisi semangat Kartini, khususnya dalam bidang pendidikan. Sehingga mampu membawa setetes penyegaran di tengah dahaganya kita akan kualitas pendidikan Indonesia yang sangat memprihatinkan.


Ni Made Deviani Medawati
Mahasiswi Jurusan Manajemen, Fakultas Ilmu
Sosial Universitas Pendidkan Ganesha

Pilkada Bukan Ajang ’’Milu-milu’’

Suara Mahasiswa
Pilkada Bukan Ajang ’’Milu-milu’’


PILKADA sering menjadi ajang promosi bagi para kandidat kepala daerah. Segala cara sering kali dilakukan untuk mendapat simpati dari masyarakat, hingga kadang jalan pintas pun dianggap pantas, dan etika-etika dalam politik seakan bukan hambatan. Terkadang
masyarakat pun terpedaya oleh sihir-sihir di zaman modern seperti
sekarang ini. Di balik itu semua, ada sisi positif yang dibawa oleh pilkada jika kita sadari, yaitu masyarakat secara tidak sadar menyatu, terlepas dari perbedaan golongan, agama, sosial, dan lain-lain. Masyarakat menyatukan aspirasi mereka demi calon unggulannya. Seandainya hal ini terus terjagi sampai calon kepala daerah terpilih, pastinya stabilitas di daerah akan sangat bagus, yang nanti manfaatnya juga akan berujung kepada masyarakat Singaraja. Oleh karena itu sebagai pemilih yang mempunyai hak suara, mari memilih dengan hati nurani, bukan karena iming-iming materi yang dijanjikan atau bukan karena sekadar milumilu
(ikut-ikutan). Karena kebanyakan pemimpin setelah terpilih mengingkari janjinya. Oleh karena itu mari kita sebagai masyarakat mulai sadar untuk memilih dengan nurani, demi membawa Singaraja ke arah yang lebih baik. Satu hati, satu tujuan menuju Singaraja 1. Semoga calon yang terpilih benar-benar berkualitas dan mampu menakhodai Singaraja untuk mengarungi badai masalah/persoalan yang ada saat ini. Siapa pun yang terpilih sama saja, biru, merah, kuning, hijau, selama mereka mau berpikir untuk rakyat dan demi rakyat, tidak menggantungkan kepentingan pribadi di atas kepentingan bersama, niscaya kepemimpinan yang berkualitas akan lahir.

I Putu Lanang Eka Sudiarta
Mahasiswa Jurusan Manajemen 
Fak. Ilmu Sosial Undiksha Singaraja

Sabtu, 10 November 2012

UN Bukan Tempat Mengadu Nasib

Suara Mahasiswa
UN Bukan Tempat Mengadu Nasib

BAGI sebagian orang utamanya para pelajar, sudah pasti tidak asing lagi di telinga mereka mendengar istilah UN atau ujian
nasional. Ujian nasional bagi para pelajar adalah suatu momok yang harus mereka hadapi. Peraturan pemerintah yang terus
membidik kenaikan angka kelulusan dari tahun ke tahun untuk meningkatkan mutu dan kualitas lulusannya memang arahnya baik,
namun hal tersebut tidak bisa terlealisasi lewat UN semata. Bagi pelajar SD, belajar selama 6 tahun harus ditentukan lulus
atau tidaknya hanya dengan mengikuti UN selama beberapa hari. Begitu juga dengan para siswa SMP dan SMA, usaha mereka selama 3 tahun dipertaruhkan dengan menghadapi UN yang berlangsung beberapa hari. Walaupun pemerintah sudah memberikan sedikit kelonggaran yaitu 40% kelulusan ditentukan
oleh sekolah, sedangkan 60% ditentukan oleh pemerintah melalui UN, namun hal tersebut masih dianggap kurang adil.Ada beberapa faktor yang seharusnya menjadi pertimbangan pemerintah.
Pertama, yang paling mengetahui bagaimana prestasi sehari-
hari siswa adalah pihak sekolah dalam hal ini guru. Jika pemerintah mau bijak, seharusnya kelulusan para siswa ditentukan oleh pihak sekolah. UN hanya untuk mengetahui tingkat kognitif siswa saja. Padahal dalam pendidikan dituntut adanya
tiga aspek penting yaitu aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Sedangkan dalam UN, ketiga aspek tersebut tidak dapat ditentukan
dengan pasti.

Kedua, UN memang dimaksudkan untuk meningkatkan mutu pendidikan bangsa Indonesia sebagai negara berkembang. Namun
di sisi lain, UN menimbulkan beberapa ekses negatif yang mengarah ke tindak kriminalitas. Salah satunya, pelaksanaan UN yang setiap tahunnya diiringi isu kebocoran soal. Ada oknumoknum
tertentu yang sengaja memanfaatkan kondisi tersebut untuk meraup keuntungan. Atau masalah lain timbul dengan adanya
SMS kunci jawaban bodong alias palsu. Tentu hal-hal
tersebut berakibat sangat buruk. Ketiga, pemerintah semestinya
juga tanggap terhadap psikologis para siswa yang akan menghadapi UN. Rasa khawatir, resah, takut, senantiasa mengiringi hari-hari mereka menjelang UN. Bahkan siswa
yang pintar pun pasti merasakan hal tersebut. Rasa takut mengecewakan orangtua, pihak sekolah dan juga perjuangan mereka selama bertahun-tahun. Bagaimana seseorang bisa
melakukan hal yang maksimal jika diselimuti perasaan seperti itu.

I Wayan Arnaya
Mahasiswa Manajemen Undiksha

Hapuskan ’’Budaya’’ Corat-coret Seragam Sekolah

Suara Mahasiswa
Hapuskan ’’Budaya’’ Corat-coret Seragam Sekolah



CORAT-CORET apakah merupakan tradisi yang beretika? Jawaban dari pertanyaan ini sangat membingungkan, karena kalau siswa yang ditanya mereka akan menjawab itu merupakan tradisi yang beretika. Karena bagi siswa, hal tersebut positif sebab dalam pikiran mereka hanya rasa senang gembira setelah lulus
dalam menghadapi UN. Mereka tidak me
mikirkan hal ke depannya, bahwa perjalanan belum berahkir sampai di situ. Rasa senang dan
kegembiraan pun diluapkan dengan cara mencorat-coret
seragam sekolah, baik itu dengan cat semprot maupun spidol berwarna. Padahal, hal tersebut bukanlah merupakan hal yang
begitu penting yang mesti dilakukan, karena tidak ada hubungannya dengan masa depan. Apa hubungan seragam
yang dicorat-coret dengan usaha untuk mendapatkan perguruan tinggi, bagi yang ingin melanjutkan ke perguruan tinggi. Atau, apakah seragam corat-coret tersebut bisa dipakai sebagai sarana
untuk mencari pekerjaan? Itu juga mustahil. ‘’Tradisi’’ corat-coret baju seragam untuk merayakan kelulusan tidak patut ditiru.
Bahwa ‘’budaya’’ tersebut terus diulang-ulang dari generasi
ke generasi, tentunya ia akan membentuk sebuah kebiasaan.
Karena kebiasaankebiasaan inilah yang akan menjadi pedoman dalam membentuk budaya tersebut. Yang menjadi masalah
sekarang, apakah budaya corat-coret setelah lulus UN
ini bisa dihapuskan dalam sekejap mata saja? Dibutuhkan
mindset para siswa untuk menghapuskan budaya corat-coret seragam sekolah, karena ekspresi demikian bukan saja tidak bermanfaat, tetapi justru merupakan kebiasaan buruk.


I Made Kristiadi Martha
Mahasiswa Jurusan Manajemen, Fakultas Ilmu
Sosial Universitas Pendidikan
Ganesha

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost Coupons